Minggu, 08 Juni 2014

Bayangan Terakhir Jungshin

Dingin. Suasana udara saat ini dingin. 

Aku memainkan handphone yang tergenggam di tanganku. Pukul 10 malam.

Dan aku masih asik menikmati keindahan gemerlap lampu malam di atas balkon asrama. Lantai 17 apartemen ini cukup nyaman untuk menikmati keindahan kota Seoul ini. Ramai. Penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tak ubah layaknya Jakarta, ibukota negeriku.

Minggu, 01 Juni 2014

Susahnya Mengerti Diri Sendiri

Saat ini mungkin lagu lama Simple Plan asik kali ya didengerin sambil tiduran
Atau kalo mau mirip sama yg di video clipnya ya naik ke gedung tinggi, lalu duduk di tepian gedung sambil liat pemandangan kota di bawahnya sambil nyanyiin keras..

Do you ever feel like breaking down
Do you ever feel out of place
Like somehow you just don't belong
AND NO ONE UNDERSTAND YOU

Selasa, 28 Januari 2014

Cerita Tentang Ibu

IBU.
Selalu menyenangkan saat aku membaca cerita tentang ibu. Terlebih karena aku terharu, dan tak urung aku sering menangis saat membaca kisah tentang ibu.
Seperti halnya sore ini saat aku membaca cerita dari novel karya Bang tere tentang serial anak mamak yg ELIANA.

Minggu, 29 Desember 2013

Aku Terus Melaju

Hari ini adalah terakhir aku melaksanakan amanahku di organisasi kampus. Meski tak sempurna kulaksanakan, meski masih banyak kuliat adik-adikku yg memendam rasa kecewa padaku krn aku jarang membersamai mereka. Tapi aku sudah lega.
Kenapa? Setidaknya mereka berbeda denganku. Agenda hari ini sama persis dengan agenda yg pernah kulakukan waktu di kepengurusan organisasi awal. Dan aku selalu sedih bila mengingatnya.
Menghadiri acara tersebut sebagai SC, lalu mengamati adik-adik tingkatku yg menjadi panitia, selalu seperti meliat flashback perjuangan awalku dulu. Tapi kepanitiaan ini, jauh lebih, lebih, lebih hebat daripada aku yg dulu. Mrk memiliki kepengurusan yg solid dari awal hingga akhir. Meski masalah klasik selalu sama, entah dana yg selalu kurang, entah jam acara yg selalu molor, entah kendala tempat acara, dan bahkan sasaran peserta yg selalu jauh dari yg diharapkan. Satu plus bagi mrk. Mrk masih menjadi panitia solid, mrk mampu membuat acara lebih menarik.
Aku tak perlu menceritakan perjuanganku dulu. Biar itu jadi kenangan semata. Biar itu meski saat kumengingatnya selalu membuatku sakit hati dan betul-betul tak mau mengingatnya, setidaknya sebuah luka yg pernah kudapat saat itu membuatku lebih tegar. Bukankah sebuah perjuangan itu artinya berkorban?
Melihat temanku yg sekarang sudah menjadi org hebat, aku sedikit terharu. Aku pernah memberinya hadiah krn suatu kewajiban, di dlm hadiah tsb kuselipkan beberapa kata, dan aku pernah terkejut saat kata-kata itu pernah dipakainya dalam memberi motivasi. Meski kami, jarang berbicara demi suatu alasan pula, tapi setidaknya dia adalah salah satu teman yg sering membantu perjuanganku awal. Oleh karena itu, amanah terakir kuikhlaskan untuk memberi waktu kurang lebih 2 bulan untuk membantunya dlm acara besar.
Tahun baru. 2014.
Perjuangan baru.
Dimana semua organisasi-organisasi akan memiliki banyak pemimpin baru. Dan pemimpin tersebut berasal dari angkatanku.
Sudah 2 org yg terpilih menjadi org besar di kampusku. Yg satu menjadi ketua BEM dan yg satu menjadi ketua organisasi dakwah islam kampusku. Keduanya adalah teman seperjuanganku awal di BEM dan dgn mereka pula aku pernah berjuang bersama.
Jika ditanya apakah aku tak ingin spt mrk?? Jawabannya tentu saja mau.
Tapi aku merasa tak mampu.
Meski teman-temanku selalu mengatakan “km mampu! Tp km selalu tdk Pede!”
Aku tahu. Aku sangat tahu.
Aku tahu kelemahanku. Tapi aku pula yg belum mau mengatasi kelemahanku. Bukan tak mau, tp memang masih sulit.
Popularitas? Aku sama sekali tak prn menginginkannya. Sudah 2 periode aku menjadi coass prktikum, selama itu pula beberapa adik tingkat sudah cukup mengenalku. Ikut kepanitiaan besar, menjabat posisi yg cukup berat, cukup pula menjadikanku sedikit populer. Tp aku sama sekali tak menginginkannya.
Aku hanya ingin membuat semua keinginanku terwujud. Jika dipikir, apa sih potensiku? Aku sadar, aku suka menulis. Dan harusnya sejak awal aku mengikuti organisasi jurnalistik. Selalu memanfaatkan waktu senggangku untuk terus menulis, menulis dan menulis. Aku bercita-cita menjadi dosen,. Maka harusnya sejak awal aku rajin kuliah, rajin mengerjakan tugas, menjadi coass yg teladan, dekat dgn dosen.
Tahun  besok, aku ingin membangun impian itu kembali. Meski aku tak pernah tahu, rintangan apa lagi yg besok kuhadapi. Tapi setidaknya aku harus memaksakan diri mencoba dan mencoba. Meski sering melenceng dan aku harus menampar diri sendiri untuk terus sadar. Aku juga harus berubah.
Aku tak harus menjadi org besar seperti teman-temanku. Bagiku, membuat semua keinginanku terwujud itu sudah cukup bagiku.
Aku tak tahu aku akan menyerak atau tidak, satu yang pasti.

Aku akan terus melaju dan melaju. Meski berbelok berlok jalannya, aku terus maju....

Kamis, 27 Juni 2013

Menjadi Dewasa

Dulu waktu SMP dan SMA sudah bukan hal yg aneh lagi saat orang-orang mengatakan sy polos dan masih kaya anak kecil. Sy pun kadang juga heran, apakah sy sepolos itu? Okelah. Jawabannya bukan karena sy polos, tapi memang karena ini badan kecil dan kurus kering. Apa mau dikata? #yooohhh, terima-terima kalau sy kurus. Ter.se.rah. Yg penting sehattt walau ga pernah minum susu yg penting sehatt XD

Waktu kuliah, tentu saja sy masih tergolong imut-imut (item mutlak ---> gara" kerjaannya ke sawah), hehe
Iya, sama masih tergolong mahasiswa yg kecil. Tp tentu saja itu bukan hal yg heran. Karena ternyata teman sy ada juga yg kurus seperti sy, ada pula yg lebih pendek dari sy, ada pula yg sikapnya jauh kaya anak kecil drpd sy, so??? ga ada lagi sebutan polos atau kaya anak kecil lagi di dunia kampus bagi sy. Yess! XD
(Tp kenyataan ibu, kakak, adek, om, bulik, mbah tetep ketemu sy komentnya "oalah nduk..nduk.. ky masih anak SMP sj km. Gubbrak!! -____-)

Lupakan masalah polos atau anak kecil!!

Dewasa. Apalah itu yg dewasa?

Dulu saat sy masih polos, taunya ya masalah cinta monyet cinta monyet, update bgt sama lagu2 band teratas, asli sy ga mau sama sekali menjadi dewasa. melihat orang dewasa, menikah, punya anak, ahhh repottt sekali. Sangat repott.. Ingin sy hanya jadi anak kecil. Bebas. Tanpa beban, tanpa mikir dosa.

Tapi hidup adalah siklus. Mau tak mau menjadi dewasa, kita pun akan tetap mengalaminya. menjadi dewasa. Pun sama halnya dengan menjadi tua. Semua orang tak pernah mau menjadi tua, tapi yg namanya waktu akan membuktikan, kita pun akan keriput dan kembali menjadi lemah.

Kadang sy melirik ah mengapa umur sy sudah secepat ini. Saat sy pusing mengerjakan tugas kuliah terkadang ibu mengajak ngobrol di sela-sela waktu. Tentang kehidupan. Tentang menikah. Tentang ibu yg selalu mengkritik sy yg selalu malas dan mengulur-ulur waktu. Yg masih masih males kalau suruh masak. Yg selalu ngeluh saat suruh ngepel seisi rumah. Oh, ibu. Terkadang sy ingin berontak. Apa sy harus secepat itu menjadi dewasa??? bahkan saat kutanya hampir semua teman-teman sy mereka enak sekali di kos, bisa enak mengerjakan tugas tanpa beban kerjaan rumah. Saat mereka pulkam mereka pun dibebaskan dari kerjaan rumah. Bahkan teman tetangga sy yg juga anak rumahan, cewek! Oh My Allah... hidup mereka enak sekali. main keluar rumah kemanapun mereka suka.

PLAK!!

Sadar!! Sadar!!

Dewasa itu pilihan. Tidak dikatakan orang dewasa jk dy belum mengerti hakikat kehidupan.
Bahwa hidup adalah menerima, penerimaan yg indah. Bahwa hidup adalah memahami, pemahaman yg benar.

Sungguh mempersiapkan diri menjadi seorang ibu bukanlah hal mudah. Sudah bukan hal yg tabu lagi mereka muda-mudi yg menghabiskan masa mudanya dg pacaran  saat menikah? Ujung-ujungnya selalu bertengkar, mengungkit-ungkit masa lalu.
Sudah bukan hal yg tabu lagi mereka muda mudi yg sibuuukkk sekali belajar pelajaran, iya mereka sukses. Tapi saat mereka menikah, bahkan anak-anak mereka tidak terurus dg benar, karena mereka sibuk dg karir masing-masing.
Sudah bukan hal yg tabu saat mereka cewek-cewek malasss sekali mengerjakan pekerjaan rumah tangga, malas membantu ibu. Saat mereka menikah, bahkan membersihkan rumah saja tak becus, teriak-teriak pada suami saat kerepotan ngurus bayi.
Dan sudah bukan hal yg tabu lagi!! mereka cowok-cowok yg sibuk nongkrong ga jelas, malas belajar atau bekerja, sibuk nggombali cewek-cewek, sibuk tebar pesona, sibuk hanya main-main dan main. Saat mereka menikah, bekerjapun tak ada semangat-semangatnya. Gimana mau sukses? Bekerja saja mereka tak sanggup.

Oh, ibu. Sungguh aku tahu. Menjadi dewasa itu pilihan. Semua gemblengan ini, tak lain tak bukan karena kau ingin mendidikkku dengan cara lain. dengan cara benar. meski aku tak menyukainya.

Menjadi pembeda itu sulit, ibu. Saat remaja-remaja lain sibuk dibebaskan belajar tanpa disuruh membantu orangtua (yg penting mereka belajar), aku selalu diprotes ibu "kenapa tugass terus yg dikerjakan?! Nyapu dulu, ngepel dulu, nyuci piring dulu, dan blabla". Saat remaja lain sibuk main kemanapun mrk suka aku selalu dinasehati "pulangnya jg malam-malam. Kalau pergi itu ingat waktu. Masa' libur kok main terus?".

Ibu, itu semua gemblengan. Memang menjadi pembeda itu sulit. Tetapi pembeda selalu menang.

Senin, 17 Juni 2013

Kau Tahu Arti Kesedihan?

Kau tahu arti sebuah kesedihan?
Kau berdiri lama menatap ombak laut di karang, percuma. Air laut takan mampu menghanyutkan sedihmu. Mungkin hanya bisa menenangkan hatimu sejenak.
Kau tahu arti sebuah kesedihan?
Kau sibukkan diri kau dengan banyak pekerjaan, percuma. Pekerjaan itu hanya membuatmu sedikit lupa dan lelah, tapi kesedihanmu akan datang lagi bila bagian dari kesedihan itu muncul lagi.
Kau tahu arti sebuah kesedihan?
Kau tertawa dan tersenyum tipis di hadapan orang banyak, percuma. Saat kau kesepian, kesedihan itu bahkan tanpa permisi akan melumpuhkanmu lagi.
Kau tahu arti sebuah kesedihan?
Kau menghilang dan lari dari kesedihan itu percuma saja. Tidak akan ada peduli bahkan sekedar mencari kau mungkin itu hanya beberapa.
Kau tahu cara membunuh kesedihan??
Entahlah, kupikir kesedihan mendalam memang tiada obatnya selain kita sendiri mengobatinya,
Kau tak bisa mengusir kesedihan.
Kau hanya bisa bersahabat dengan kesedihan.
Sekarang kau tahu kesedihan itu apa?
Entahlah, semua itu terlalu menyakitkan dan menyesakkan untuk diceritakan.
Mungkin kalian sendiri yang bisa mendeskripsikan sendiri.

Minggu, 02 Juni 2013

Dialah yg Paling Menyakitkan

Dialah yg paling menyakitkan
Dari sekian masa lalu
Dialah yg paling menyesakkan
Ketika hati ini masih cenderung padanya
Dialah yg paling menyedihkan
Saat kusadar aku tak bisa merebut hatinya

Aku tahu
Semua perasaan ini sia-sia
dan selalu percuma
Sering kumengatakan
aku telah mengikhlaskannya
tapi di lubuk kecil
aku tak pernah bisa mengikhlaskannya

kapanpun
belum bisa mengikhlaskannya
sampai ada pengganti yg lebih baik darinya
sampai ada seseorang yg lebih menarik darinya
Sampai dia betul-betul bersanding pada yg lain

Seorang pujangga pernah mengatakan
Org yg memendam perasaan selalu bermain-main dg perasaan
selalu membenarkan khayalan-khayalan yg indah
hanya untuk menyenangkan hatinya
sampai pada akhirnya dia tdk bisa membedakan
mana yg palsu dan mana yg nyata

Ya Allah
aku serasa buta
seperti kehilangan arah
ketika aku seperti telah menenukan titik terang
sering pula titik gelap mengaburkan pandanganku
aku betul-betul buta
tidak bisa membedakan ini nyata atau maya

Aku sering mengacuhkannya
hanya dalam hal sikap
tapi aku tak pandai menyembunyikan sikap
karena hatiku tak sejalan dengan sikap
pura-pura mengacuhkannya
tapi di balik itu semua diam-diam masih memperhatikannya
pura-pura mendiamkannya
tapi di balik itu selalu ingin mengajaknya bicara dan bercanda

Ah, perasaan apa ini
hambar

Dialah yg paling menyakitkan
Karena rasa yg terpendam untuknya terlalu dalam dan lama
paling sulit dihapuska
paling menyesakkan ketika berusaha mengingatnya

Dialah yg paling menyakitkan
karena dia tak mampu mengungkapkan apa yg dirasanya
seolah dia punya rasa yg sama
tapi dia sendiri yg tak pernah mau pula menanamnya
dia membunuh perasaannya

Ketika aku berusaha terus memeliharanya dan menjaganya
tapi dia mati-matian membunuhnya
Dialah yg Paling menyakitkan